Statistik

Pesona Alam Di Indonesia

Indonesia Tengah dan Timur menyajikan pesona alam yang indah, alami, nan eksotis. Terlepas dari bisingnya  lalu lintas perkotaan, terlepas dari penatnya tekanan pekerjaan, dan terlepas dari aroma atmosfer yang tercemar. Benar-benar merupakan salah satu cipratan syurgawi yang diberikan pada dunia.

Jika pembaca sekalian menginginkan ketenangan dalam menikmati keindahan dari yang Maha Kuasa, maka tempat-tempat wisata di PulauLombok merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat direkomendasikan.

Sekitar bulan Februari 2012 lalu, bertepatan dengan liburan pasca UAS, saya dan beberapa teman sekelas di kampus pergi berbackpacker ke Bali. Kami pergi ke sana dari Jogja dengan menggunakan Kereta Sri Tanjung, dilanjutkan dengan feri penyebrangan, bus kota, dan tibalah kami di Bali. Ongkos yang dikeluarkan pun tergolong murah, hanya sekitar 66 ribu untuk mencapai Ubung, Bali. Namun kali ini saya hanya akan menceritakan kisah perjalanan saya di Pulau Lombok. Cerita punya cerita, ketiga teman saya memutuskan untuk pulang setelah lima hari kami berombang-ambing di Bali. Sedang saya memutuskan untuk melanjutkan wisata ke Pulau Lombok.

Hari pertama wisata di Pulau Lombok diawali dengan mengunjungi PuncakPusuk,
sebuah puncak perbukitan di wilayah Lombok Barat yang sejuk dengan pepohonan yang cukup lebat seperti hutan belantara.

Di sepanjang jalan di Pusuk juga terdapat monyet-monyet yang berkeliaran dengan bebas dan pengunjung dapat memberi makan mereka dengan kacang yang dapat dibeli di penjual setempat.

Monyet-monyet di wilayah Pusuk ini berkeliaran dengan bebasnya dan berinteraksi cukup dekat dengan pengunjung, berbeda dengan monyet-monyet yang dapat kita temui di wilayah Kali Urang yang rata-rata hanya dapat kita lihat dari kejauhan karena kebanyakan dari monyet-monyet itu selalu di atas pohon. Pengunjung harus hati-hati karena beberapa monyet di Pusuk karena mereka cenderung agresif dalam meminta makanan, bahkan saat itu botol mizone yang dibeli oleh sepupu saya diambil, dibuka, dan diminum oleh salah satu monyet tersebut.

Sejalur dengan Pusuk, saya melanjutkan perjalanan ke arah utara, menuju Gili Trawangan, sebuah pulau kecil di wilayah Lombok Tengah yang sudah terkenal hingga mendunia. Gili Trawangan ini adalah salah satu dari Tiga Gili (Three Gilis) di lombok Tengah, yakni Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Di sepanjang perjalanan, sepupu saya menceritakan legenda-legenda setempat. Konon katanya, di malam hari jika mengendarai motor sendiri di daerah Pusuk, terkadang jika apes maka kita dapat diperlihatan penampakan ular putih berkepala manusia. Dan jika melihatnya, maka jangan sekali-kali menatapnya.

Di sepanjang jalan itu saya juga meilhat arca-arca sebagai tempat persembahan umat Hindhu. Pulau Lombok, menurut saya adalah sebuah pulau dimana toleransi beragamanya cukup tinggi, terutama antara umat muslim dan umat Hindhu yang berasal dari Bali. Terdapat banyak Masjid besar di tepian jalan yang kami lalui, namun juga terdapat pura-pura kecil untuk permohonan keamanan.

Gili Trawangan, sebuah pulau kecil yang indah seperti gambaran pantai-pantai di alam imaji. Pasir putih bersih, langit biru yang cerah, air laut yang jernih semakin jauh semakin membiru menua, perahu nelayan yang dilabuhkandi tepian pantai, serta wisatawan yang asik berenang dan melakukan snorkeling. Karena keadaan alamnya yang masih alami, air lautnya pun sangat jernih dan hanya dengan berbekal peralatan snorkeling yang sederhana, kita dapat melihat terumbu-terumbu karang.

Karena letaknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai, hanya dengan berenang sebentar saja kita sudah dapat menikmati indahnya ekosistem bawah air. Kita juga dapat melihat ikan-ikan kecil berwarna cerah yang berenang kesana kemari dengan cepatnya. Jika pembaca sekalian memiliki banyak waktu, menginaplah satu atau dua malam di Gili Trawangan ini. Pada malam hari, sering terdapat kunang-kunang yang memperindah suasanan malam. Di pagi hari, terkadang kita dapat menemukan menemukan ubur-ubur yang terseret ke pinggiran pantai.

Yang paling spesial dari pulau ini adalah tidak adanya kendaraan bermotor. Pengunjung menggunakan cidomo, semacam andong atau delman yang menggunakan ban mobil, atau dapat juga dengan menyewa sepeda. Benar-benar suasana yang alami.

Gili Trawangan ini tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Pulau ini dapat dikelilingi dengan menggunakan Cidomo atau Bersepeda. Saya sendiri mencoba bersepeda untuk mengelilingi Gili Trawangan dan ternyata cukup melelahkan. Di sepanjang jalan yang mengelilingi pulau, kita dapat melihat hotel-hotel, pub, atau bar yang didesain dengan unik dan artistik. Di sepanjang jalan, di beberapa tempat yang belum terjamah oleh para developer perhotelan, kita dapat menemui kesunyian dan keindahan pantai yang masih murni dari jamahan manusia.

Puas bermain di Gili Trawangan, saya dan sepupu melanjutkan perjalanan ke Pantai Malimbu. Sebuah pantai di kawasan Lombok Barat dengan tebing-tebing tinggi.

Di puncak Malimbu, jalanan bersampingan langsung dengan tebing itu hanya dibatasi pagar kecil,  membuat kita dapat melihat pemandangan laut biru nan eksotis di bawah. Biasanya di malam hari, Malimbu dipenuhi oleh orang-orang yang bersantai melihat pemandangan laut malam sembari memakan jagung bakar. Saya sendiri sempat mencobanya, dan benar-benar maknyus. Perpaduan antara angin dingin dan hangatnya jagung bakar membuat langit malam semakin berkilau.

Setelah berfoto-foto di Puncak Malimbu, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Kerandangan. Pantai yang menurut saya yang pecinta pasir putih ini, biasa saja karena warna pasirnya coklat kehitaman. Namun pantai tersebut layak untuk dikunjungi karena wisata kulinernya. Disana kami menyantap sate Bulaya, sate yang terbuat campuran dari daging ayam dan ikan yang ditaburi bumbu kacang.

Yang khas dari kuliner di lombok ini adalah hampir selalu menggunakan perasan jeruk limau untuk memepersedap rasa, misalnya saja pada bumbu Ayam Taliwang, Beberuk (sejenis lalapan), maupun pada sambal-sambalnya. Awalnya saya menyangka sate ini berasal dari daging buaya, maka dari itu sate dinamai Sate Bulaya. Namun ternyata Bulaya adalah nama lontong yang disantap bersama sate ini. Terbuat dari beras, Bulaya ini hapir sama dengan lontong pada umumnya, namun dibungkus dengan menggunakan daun lontar.

Yang membuat suasana semakin asri adalah tempat makan yang dikemas menyerupai gubuk-gubuk kecil di tengah sawah. Hanya saja konsepnya adalah lesehan gubug beratap rendah di pinggir pantai. Konon katanya, di pantai ini, terdapat sebuah palung yang dapat menarik mereka yang tidak berhati-hati.
Setelah puas mengunjungi tempat-tempat tersebut, yakni Puncak Pusuk, Gili Trawangan, Puncak Malimbu, dan Pantai Kerandangan, saya pun pulang ke rumah saudara untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
21.22 | 0 komentar | Read More

Wisata Ke Pulau Maratua

Derawan sebuah pesona laut yang tidak perlu diragukan lagi, membuatnya menjadi daya tarik bagi pencinta biota laut di bagian Timur Kalimantan. Kepulauan Derawan yang terdiri dari 31 pulau di Laut Sulawesi ini menawarkan ekosistem laut yang lengkap, mulai dari plankton, berbagai jenis terumbu karang hingga aneka macam fauna yang sangat menarik untuk dijumpai.




Indahnya pengalaman ketika berenang beriringan dengan seekor penyu, menyaksikan kepakan manta yang semakin mendekat, mengiringi lompatan ceria lumba-lumba, dan berbagi ruang dengan ubur-ubur sungguh menjadi hal yang tidak akan terlupakan yang dapat Anda nikmati di wilayah ini
Derawan sebuah pesona laut yang tidak perlu diragukan lagi, membuatnya menjadi daya tarik bagi pencinta biota laut di bagian Timur Kalimantan. Kepulauan Derawan yang terdiri dari 31 pulau di Laut Sulawesi ini menawarkan ekosistem laut yang lengkap, mulai dari plankton, berbagai jenis terumbu karang hingga aneka macam fauna yang sangat menarik untuk dijumpai.

Indahnya pengalaman ketika berenang beriringan dengan seekor penyu, menyaksikan kepakan manta yang semakin mendekat, mengiringi lompatan ceria lumba-lumba, dan berbagi ruang dengan ubur-ubur sungguh menjadi hal yang tidak akan terlupakan yang dapat Anda nikmati di wilayah ini
Sehabis istirahat sejenak di dermaga, biasanya pengunjung akan menebus hutan Pulau Kakaban melalui jalur yang sudah disediakan, berupa tangga kayu.  Anda perlu sangat hati-hati dalam meniti tangga ini karena banyak terdapat kayu yang tidak terpasang dengan baik pada posisinya. Perjalanan tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit dengan perjalanan santai, namun medannya cukup melelahkan.

Akan tetapi kelelahan ini akan terbayar, ketika rimbunnya dedaunan mulai menguak dan menampakkan keindahan Danau Kakaban yang hijau, senada dengan hijaunya pepohonan yang mengelilinginya. Danau yang berada di tengah Pulau Kakaban merupakan air laut yang terjebak dan bercampur dengan air tanah dan hujan selama ribuan tahun, sehingga membentuk Danau air payau. Biota laut yang sudah terlanjur terjebak di sana telah berevolusi dan membentuk suatu ekosistem yang unik hasil adaptasi selama kurun waktu ribuan tahun.

Jenis biota yang paling bayak ditemui adalah ubur-ubur yang terdiri dari empat jenis, dan salah satu di antaranya adalah ubur-ubur  Cassiopea, di mana ubur-ubur jenis ini hanya ada di dua tempat di dunia, yaitu di Palau, kep. Micronesia di kawasan Tenggara Laut Pasific dan Kakaban. Selain itu di hutan bakau yang mengelilinginya banyak ditemukan kepiting, teripang, dan ular laut. Serta banyak biota unik lain yang masih menjadi objek penelitian dari para ilmuwan.

Indahnya Danau Kakaban dan uniknya ekosistem yang ada di sana, membuat suasana yang dihadirkan benar-benar tiada duanya. Bermain dengan ubur-ubur  yang bergerak terbalik sehingga plankton yang ada di kakinya dapat memperoleh cahaya matahari. Binatang menggemaskan berwarna oranye pun harus pasrah diganggu tangan-tangan manusia yang sangat gemas dengan teksturnya yang seperti jeli.  Setelah puas mengganggu ubur-ubur, Anda dapat saja mengamati ekosistem unik yang ada dan mencoba menebak-nebak jenis bioata yang Anda temui, atau cukup dengan duduk diam di dermaga dan menikmati keindahahan danau, dijamin tidak akan bosan menghabiskan satu hari penuh di tempat tersebut.


Kedalaman Kakaban 

Selain pulau dan danaunya yang unik, Kakaban juga memiliki spot diving yang menarik. Sebuah wall batu karang yang berhadapan langsung dengan kedalaman laut yang tidak berbatas, Di sini Anda dapat menyelam dan berenang di antara dua sisi dinding, satu dinding karang dengan keindahannya dan sisi lain birunya lautan yang penuh misteri. Panduan antara  indahnya wall dan biru yang tak berujung, menjadi keindahan itu menjadi sangat agung.


Maratua, sesuai dengan namanya yang berkesan tua, di sinilah daerah yang dihuni oleh binatang dengan usia berabad-abad, dialah si penyu yang akhir-akhir ini makin gencar dilindungi. Maratua merupakan turtle point, di mana Anda dapat menyaksikan penyu dalam jumlah banyak. Selain penyu Anda juga dapat menjumpai banyak barakuda, jackfish dan stingray.



Arungi Lautan 

Pulau Maratua sendiri cukup menarik untuk dinikmati. Pulau yang merupakan salah satu pulau terluar Indonesia

dan berbatasan langsung dengan Negara Malaysia ini, memiliki garis pantai yang panjang dan landai dengan pasir putihnya yang mempesona dengan perairan yang sangat tenang.



Pesona pesisir ini sudah dimanfaatkan oleh sebuah resort mewah Paradise Resort yang dikelola oleh seorang pengusaha berwarga negara Malaysia, rate kamar yang disewakan berkisar antara 600 ribu s.d 2 juta rupiah.
19.16 | 0 komentar | Read More

Berani Wisata Ke Kutup Utara

Desa Igloo, salah satu fasilitas dari Hotel Kakslauttanen, menjamin wisatawan untuk melihat penuh indahnya cahaya utara selama musim dingin. Terletak di Lingkaran Kutub Utara dekat Taman Nasional Urho Kekkonen, Finlandia, wisatawan dapat tinggal di igloo beratap kaca atau kalo berani dalam igloo salju tradisional yang dingin.


Kaca termalnya mencegah bunga es dan mempertahankan pandangan yang jelas bahkan ketika suhu luar turun di bawah -30 derajat Celcius

Kaca termalnya mencegah bunga es dan mempertahankan pandangan yang jelas bahkan ketika suhu luar turun di bawah -30 derajat Celcius

Ada 20 igloo yang dibangun dari kaca gelas termal khusus yang memungkinkan suhu dalam igloo untuk tetap konstan dan hangat. Kaca termal ini juga mencegah pembentukan bunga es, dan tetap membuat pandangan yang jelas bahkan ketika suhu luar turun di bawah -30 ° C (-22 ° F).

Namun, suhu di dalam igloo yang tradisional tidak begitu nyaman. Berkisar antara -3 ° C dan -6 ° C (27 ° F dan 21 ° F), wisatawan terpaksa harus meringkuk dalam kantong tidur, mengenakan kaus kaki wol dan kap untuk menghalau udara dingin.

16.04 | 0 komentar | Read More

Jalan Jalan Di Kampung Betawi



Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Pemkot Jakarta Barat untuk menyelenggarakan kegiatan Kampung Betawi di Kota Tua pada Sabtu-Minggu, 16-17 November 2013.

Kepala Bidang Pengelola Destinasi, Ida Zubaidah, menuturkan, acara ini bukan hanya sebagai ajang promosi, tetapi juga edukasi. Kota Tua akan disulap menjadi Kampung Betawi, di mana nanti dihiasi dengan ornamen-ornamen budaya Betawi, baik dari segi layout sampai kuliner.

Di festival ini juga akan ditampilkan keberagaman etnis, seperti China, budaya Arab, Melayu, dan Indonesia Timur.

Dalam acara ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menggandeng majalah National Geographic Traveller untuk membuat tulisan perjalanan dalam bentuk booklet di edisi Desember 2013.


Berbagai komunitas juga turut dilibatkan untuk menyemarakkan acara. Salah satunya Komunitas Pena Jiwa. Komunitas Pena Jiwa melalui Adventure Documentary Festival mengabadikan festival tersebut tidak hanya dalam bentuk foto, melainkan juga film dokumenter, animasi, dan komik.
18.52 | 0 komentar | Read More

Kuliner di Magelang

Bagi masyarakat di luar daerah Magelang, barangkali belum banyak yang mengenal makanan khas Kupat Tahu. Namun siapa sangka, makanan berupa campuran ketupat, tahu, sayuran dan bumbu kacang ini mampu menyedot pengunjung di Festival Jamu dan Kuliner Internasional 2013. Festival yang di gelar di Kantor Gubernuran Jl Pahlawan Semarang Jawa Tengah pada 13-15 September 2013.

Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang, Suko Tri Cahyo mengungkapkan kebanggaannya ketika kupat tahu menjadi salah satu makanan favorit pengunjung di antara ratusan makanan yang ada di festival berkelas internasional itu.

“Kami menerima banyak masukan terkait makanan khas Magelang apa yang cocok untuk kami bawa ke festival. Tapi kami pikir kupat tahu memang paling pas dan ternyata memang benar banyak pengunjung yang suka.


Menurut Suko, meskipun sederhana namun kuliner kupat tahu mempunyai cita rasa yang unik. Manis dan pedas seperti kegemaran masyarakat Jawa pada umumnya. Dikatakan Suko, melalui festival tersebut pihaknya ingin masyarakat Indonesia dan mancanegara lebih mengenal menu khas Magelang.

Festival ini, jelas Suko, diselenggarakan dalam rangka Visit Jateng 2013 yang diharap mampu meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan ke Jateng. Ada 10 negara peserta festival, yakni Spanyol, Cina, Cekoslovakia, Jepang, Mesir, Polandia, Rusia, Vietnam, Austria, dan Jerman serta Indonesia. Selain itu, ada 5 negara peninjau, seperti Filipina, Myanmar, dan Singapura.

Setidaknya ada 53 stan yang terdiri atas 28 kabupaten dan kota di Jateng, gabungan pengusaha jamu Jateng, perwakilan dari Banten dan Jawa Timur serta jamu gendong. “Kita tentu sangat bangga bisa ikut festival internasional ini. Apalagi, kupat tahu yang kita bawa laris manis dibeli para pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri,” katanya.

Dalam festival yang digelar pertama kalinya itu, pihaknya menggandeng Endang Susilowati (59) yang memiliki usaha kuliner Kupat Tahu Lezzzat. Racikan kupat tahu Endang memang dikenal memiliki cita rasa berbeda dibanding yang lain.

Endang mengaku bangga karena mendapat kepercayaan dari Pemerintah Kota Magelang meracik kupat tahu untuk dibawa ke festival tingkat internasional itu. Selama festival berlangsung, Endang menyediakan sekitar 200 porsi setiap hari dan selalu tidak tersisa.
20.12 | 0 komentar | Read More

Jika Wisata Naik Pesawat jangan Makan Makanan Ini Ya

Kentang goreng

Memang terasa nikmat menyantap kentang goreng dengan irisan tipis-tipis. Apalagi kentang disantap panas-panas baru turun dari wajan. Gurihnya kentang pasti membuat ketagihan. Tetapi ada baiknya jika Anda menunda dulu mengonsumsi kentang jika hendak melakukan perjalanan dengan pesawat.

Kentang mengandung lemak dan natrium yang tinggi. Sementara jika berada di ketinggian, sistem pencernaan tubuh kita tidak mampu untuk mencerna zat tersebut. Hal tersebut akhirnya dapat mengakibatkan perut kembung dan rasa gelisah sepanjang perjalanan.

Apel

Meski buah-buahan adalah makanan sehat, namun apel dan buah-buahan berserat lainnya tidak mudah dicerna tubuh. Selain itu, apel pun mengandung gas yang dapat membuat perut kembung.

Kacang-kacangan

Jika Anda menyertakan kacang-kacangan sebagai bekal di perjalanan, ada baiknya makanan tersebut disimpan dahulu. Konsumsi saja kacang setelah mendarat di tempat tujuan.

Minuman bersoda

Minuman bersoda dapat memberikan efek mulas dan perut kembung. Ada baiknya agar Anda mengganti mengonsumsi soda dengan teh herbal.

Cabai atau makanan pedas

Makanan pedas dapat menyebabkan iritasi lambung. Apalagi jika perut si pemakan sensitif, bisa-bisa menimbulkan rasa mulas. Untuk mencegah bolak-balik ke toilet, sebaiknya Anda menghindari mengonsumsi makanan pedas.

Permen karet

Mungkin permen karet dapat membantu menimimalisir dengungan pada gendang telinga saat pesawat lepas landas dan mendarat. Tetapi, kebanyakan makan permen karet juga dapat mengakibatkan perut kembung.
20.38 | 0 komentar | Read More

Wisata Peningalan Di Jatinegara

Sekitar tahun 1661, di sini pernah berdiam seorang guru agama Kristen yang hijrah dari Pulau Banda. Guru yang bernama Meester Cornelis Senen itu, akhirnya menjadi salah satu tokoh yang disegani. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Cikarang, Bekasi, Jatinegara hingga Kebayoran.

Kemudian, nama guru tersebut dijadikan orang setempat menjadi nama wilayah. Makanya di Jatinegara sering disebut dengan Mester. Pasarnya pun dikenal dengan Pasar Mester.



Penjelajahan dimulai dari Stasiun Jatinegara. Salah satu stasiun ternama di Jakarta Timur itu, masih menyimpan arsitektur Belanda masa lalu. Arsitektur kuno terlihat dari bentuk peron stasiun yang telah ada sejak 1910.
Aditia Harmawan, pengelola Stasiun Jatinegara mengatakan, tidak seperti beberapa tahun yang lalu, kini Stasiun Jatinegara tak terlalu banyak penumpang. Karena stasiun hanya melayani penumpang dengan rute Jabodetabek. Sedangkan rute kereta ke luar Jakarta hanya menurunkan penumpang. Stasiun tidak melakukan pengangkutan penumpang.

Dari stasiun, rute selanjutnya menuju Gedung eks Kodim 0505 yang berada di seberang stasiun. Bangunan bercat putih dengan tiang penyangga di terasnya itu tampak rimbun di antara pepohonan. Tetapi saking rimbunnya pepohonan, bangunan itu agak sedikit terselip tak terlihat.

Konon, bangunan ini adalah tempat peristirahatan Meester Cornelis. Sayang, rombongan kami tak bisa masuk ke dalam. Karena kabarnya bangunan tersebut sedang dilakukan renovasi. Dari kabar yang beredar, menurut Adjie, bangunan ini akan menjadi Gedung Kesenian Jakarta Timur. Sungguh ide baik. Dengan begitu, masyarakat semakin banyak memiliki wadah berkreatifitas seni.

Setelah melihat Kodim, rombongan berjalan menyusuri gang-gang kecil. Tempat selanjutnya adalah kelenteng. Sebenarnya pada hari ini rombongan akan menuju ke dua kelenteng. Kelenteng pertama berada tak jauh dari bangunan Kodim. Tepatnya di Gang Padang. Sedangkan kelenteng yang kedua akan menjadi tempat perhentian terakhir.

Masuk melalui gang, cukup merasakan bersenggol-senggolan sesama teman, pun penduduk sekitar yang melintas. Karena memang gang hanya cukup untuk kira-kira 2 orang. Lokasi kelenteng pun berada di depan jalan yang hanya memiliki lebar beberapa meter.

Memang awalnya kelenteng adalah rumah tinggal. Pendiri kelenteng yang kira-kira berusia 70 tahun ini, adalah Tung Djie Wie. Fotonya terpajang di salah satu altar kelenteng. Hingga saat ini, pengurus kelenteng adalah keturunannya yang kedua (cucu)
Kerukunan beragama di Jatinegara, tidak hanya menyimpan kelenteng bersejarah. Tetapi juga masjid bersejarah. Masjid Jami' Al Anwar yang berada di Rawa Bunga. Masji diperkirakan dibangun pada tahun 1859. Menurut pengelola masjid, Ustad Rasyid, masjid tersebut dibangun atas gotong royong 12 desa di sekitar masjid.

Cerminan gotong royong desa diwakilkan oleh 12 tiang yang ada di aula utama masjid. Tiang yang kini sudah berlapis tembok itu, ternyata di dalamnya masih mengandung kayu jati asli sejak masjid pertama kali dibangun.

Kurang lengkap apa yang dimiliki Jatinegara? Setelah tempat ibadah, Jatinegara juga punya sekolah bersejarah. Sekolah SMP Negeri 14 yang ada di seberang Pasar Jatinegara (Mester). Yang membuat sekolah ini tak biasa adalah bentuk bangunan art deco, dengan warna dominan merah bata. Sekolah ini diperkirakan dibangun antara tahun 1920 hingga 1930.

Bentuk bangunan yang menyimpan gaya art deco, ada pada bentuk pintu, jendela, dan ukiran-ukiran pada atap gedung. Sekolah yang bergabung dengan SD 03 dan Yayasan Merdeka ini ternyata juga banyak meraih prestasi.

Pernahkan terbayang bahwa di Jatinegara mulanya adalah sebuah benteng? Dalam lukisan Johannes Rach, ahli topologi dari Denmark yang bekerja auntuk VOC ternyata pernah menggambar kegiatan pasar di depan benteng Belanda.
Benteng berbentuk bintang tujuh dengan gardu berpenjaga yang dipersenjatai meriam berada di sisi Sungai Ciliwung. Namun kini, benteng sudah tidak ada sama sekali. Sisa peninggalan benteng pun hampir tak terlihat. Berganti dengan bangunan-bangunan baru. Bukti keberadaan benteng adalah adanya parit besar di kawasan Matraman. Tepatnya, tak jauh dari shelter TransJakarta Kebon Pala.

Parit tersebut ada di bawah viaduct, yang di atasnya terdapat jalur rel kereta penghubung stasiun Jatinegara dengan Stasiun Manggarai. Setiap harinya banyak kendaraan dan kereta lalu lalang di atas bangunan itu. Namun tanpa ada yang sadar bahwa bangunan tersebut menyimpan sejarah masa silam.

Dari viaduct, akan terlihat Gereja Koinonia. Gereja merupakan gereja pertama di kawasan timur Batavia. Kompleks bangunan gereja begitu mencolok, ada di ujung pertemuan antara Jatinegara dengan Matraman. Untuk bisa lebih jelas melihat gereja, rombongan pun diajak ke atas jembatan TransJakarta. Dari sanalah, terlihat arsitektur Belanda pun masih tertinggal pada gereja.
Pada kelenteng yang lagi-lagi bergabung dengan rumah tinggal, rombongan melepas penat. Cukup jauh memang rute yang dilalui pada hari itu. Meski demikian, beberapa pesera terlihat keasyikan dengan mencoba peruntungan di Ciam Si.

Ciam Si adalah ramalan Tionghoa, berisi batang bambu berbentuk sumpit, ditaruh wadah bulat. Di ujung sumpit diberikan nomor yang akan menuju ke kertas ramalan. Boleh percaya atau tidak menggunakan Ciam Si ini.

Namun bukankah nasib baik dan nasib buruk manusia sudah ada yang mengatur? Seperti hari itu, nasib baik rombongan kami adalah bisa tahu banyak tentang Jatinegara, yang biasanya selama ini hanya menjadi perlewatan.
19.45 | 0 komentar | Read More