Tour de Singkarak



Pencapaian itu langsung menempatkan TdS sebagai lomba paling banyak ditonton keempat di bawah Tour de France, Vuelta Espaa, dan Giro d’Italia. Tour de France dengan 12 juta-15 juta penonton di sepanjang rute yang dilewati menjadi lomba balap sepeda paling terkenal di dunia sejak dirintis 110 tahun lalu.

ASO adalah pemilik dan penyelenggara lomba balap sepeda Tour de France yang tahun ini mencapai edisi ke-100.

”Tour de Singkarak adalah aset yang cukup baik, terutama dari potensi penonton. Pebalap sepeda senang melihat kerumunan penonton. Mereka merasa termotivasi dan itu membuat mereka ingin kembali,” kata Project Manager ASO Business Development, Robin Cassuto di kantor ASO di Paris, Perancis, beberapa waktu lalu.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengatakan, Indonesia baru tahap memulai pengembangan sport tourism (pariwisata olahraga). Pariwisata ini dapat dimanfaatkan sebagai jembatan bagi pariwisata alam dan budaya yang selama ini menjadi daya tarik tradisional pariwisata Indonesia.

TdS mendapat dorongan besar, mengingat potensi penonton yang luar biasa. Sapta mencontohkan sepak bola yang menjadi olahraga paling populer di Indonesia. Namun, sebenarnya dari segi penonton langsung terbatas mengikuti kapasitas stadion. Berbeda dengan balap sepeda yang mampu mendatangkan crowd atau kerumunan penonton yang ”tidak terbatas” karena lintasan etape bisa mencapai ribuan kilometer.

Jumlah penonton yang besar berarti daya tarik bagi sponsor dan pemasang iklan. Sejauh ini, menurut Sapta, sudah ada beberapa sponsor besar yang bergabung meski baru mampu mencakup 30 persen biaya penyelenggaraan. Namun, tujuan terpenting adalah pengembalian investasi dalam bentuk kunjungan wisatawan dan efek berganda terhadap ekonomi masyarakat lokal.
”Untuk peningkatan kelas rasanya baru bisa terwujud pada 2015. Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga serta ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia). Sejauh ini mereka cenderung pada keinginan yang sama untuk peningkatan grade ke 2.1,” kata Sapta saat kunjungannya ke Perancis bersama rombongan dari Indonesia.

Rombongan berada di Perancis pada 17-23 Juli lalu untuk mengalami dan melihat langsung penyelenggaraan TdF. Seeing is believing. Menurut Sapta, melihat langsung diharapkan menjadi sarana pembelajaran efektif.

Rombongan dari Indonesia selain dari Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif, juga Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim dan empat bupati yang wilayahnya dilewati rute TdS, yakni Bupati Dharmasraya Adi Gunawan, Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni, Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria, dan Wali Kota Padang Panjang Suir Syam. Ikut juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat Burhasman, perwira Kepolisian Daerah Sumatera Barat, serta dua wartawan.

Ada tiga masukan utama yang disampaikan ASO sebagai evaluasi penyelenggaraan TdS 2013, yakni soal peningkatan kelas, jadwal lomba, dan etape. ASO menekankan TdS harus segera menaikkan kelas ke 2.1.

PB ISSI sebagai induk olahraga balap sepeda di Indonesia disarankan segera mengajukan permohonan kenaikan kelas kepada Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI). ASO bahkan telah mengirimkan contoh surat permohonan peningkatan kelas. ASO juga bersedia mendampingi dan memberikan rekomendasi.

Menurut Robin, dengan riwayat panjang sebagai penyelenggara TdF dan berbagai lomba balap sepeda kelas dunia lainnya, suara ASO diperhitungkan oleh UCI. Ini diharapkan memudahkan jalan Indonesia memperoleh izin dari UCI.
Penting juga untuk menjadwal ulang waktu lomba. Terakhir, TdS digelar pada 2-9 Juni 2013 yang diikuti 22 tim dengan 16 di antaranya tim asing. Hindari penyelenggaraan yang bersamaan dengan musim panas di Eropa karena Tour de France dan beberapa tur dunia lain yang masuk agenda wajib pebalap dunia diselenggarakan pada musim ini. Mereka justru membutuhkan balapan di waktu yang bersamaan dengan musim dingin karena sekaligus untuk ajang latihan.

Bulan Februari hingga Maret, menurut Robin, menjadi waktu ideal untuk penyelenggaraan TdS. Tentu saja setelah memperhatikan jadwal lomba di Australia dan Tour de Langkawi di Malaysia yang biasanya disambangi para pebalap sepeda. TdS diharapkan masuk pertimbangan sebelum mereka kembali ke Eropa. Tim-tim ini sudah harus diundang sejak September sebelumnya. Namun, diakui Robin, untuk ini penyelenggara harus menyediakan tambahan dana pengganti biaya transportasi. Besarnya 1.500 euro hingga 2.000 euro per tim.

Dari segi persyaratan akomodasi, menurut Robin, hotel-hotel yang ada di Padang dan Bukittinggi sudah mencukupi. Tidak perlu ada hotel berbintang di setiap daerah yang menjadi tempat start atau finis etape. Rute bisa diatur agar pebalap cukup menginap di Padang atau Bukittinggi karena untuk setiap hari gonta-ganti hotel juga merepotkan dan melelahkan bagi pebalap dan rombongannya.

Kunci kedua adalah rute. ASO menekankan rute harus didesain agar menarik, menantang, tetapi juga tetap memperhatikan aspek keamanan. Etape harus diatur agar memberikan tantangan yang berjenjang tahap demi tahap atau kombinasi dari jalan datar, berbukit, dan pegunungan.

Tidak seperti yang lalu, rute pertama TdS justru menjadi etape tersulit sehingga peserta sudah kepayahan di awal. Para pebalap asing yang baru datang, terutama dari Eropa, membutuhkan adaptasi sehingga ada baiknya etape pertama datar, kemudian semakin memuncak pada etape-etape berikutnya.

Kelok 44 ideal dijadikan puncak etape karena memberikan tantangan tersulit. Sementara Kelok Sembilan yang sempat dimasukkan ke dalam etape disarankan untuk dihapus karena membahayakan pebalap.

”Sebaiknya penentuan rute bukan oleh pemerintah daerah yang daerahnya dilewati etape karena khawatir ada jalur yang membahayakan, seperti Kelok Sembilan,” kata Robin.

Sebagai gantinya, ASO dengan dukungan para ”veteran” TdF bersedia menentukan rute yang layak dan aman dijadikan etape, termasuk penyusunan urutan etape berdasarkan tingkat kesulitan. Dengan catatan, mereka dilibatkan sejak jauh hari. Pada TdS 2013, ASO hanya dikaryakan sebagai validator rute.


0 komentar:

Posting Komentar