Ulos Samosir Tak pwenah Ketingalan Zaman

Ulos bisa dibeli di sejumlah toko khusus perlengkapan adat di Kota Medan. Namun kain tenun tradisional yang melambangkan pemberian pihak hula-hula kepada boru dalam filosofi hidup masyarakat Batak Toba itu seakan menemukan keasliannya di Pulau Samosir.


Di banyak gerai yang menjual aneka produk kerajinan tangan khas Batak Toba di Tomok, desa wisata dimana dermaga kapal-kapal penumpang dan feri Tao Toba I dan II yang menghubungkan Kota Parapat - Pulau Samosir itu berada, para pengunjung dapat menemukan ulos dengan beragam motif, mutu, dan harga.

Yola Samosir, penjual cenderamata yang menempati salah satu dari sedikitnya seratus gerai yang ada di Tomok, mengatakan harga ulos sangat bergantung pada mutu benang dan kehalusan buatannya sehingga ada yang dijual dengan harga tiga jutaan rupiah per helai.

"Ragi Idup misalnya merupakan ulos bernilai tinggi. Tapi di sini yang saya jual biasanya Ulos Sadun dengan harga antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000. Banyak turis asing dan pelancong dari Jakarta yang membeli ulos-ulos di tempat saya," katanya.

Dalam sejarah keberadaannya, kain tenun yang para pembuatnya masih dapat ditemukan di daerah Buhit, Pulau Samosir, ini memiliki nama, fungsi, nilai dan waktu pemakaian yang berbeda-beda.

Menurut MA Marbun dan IMT Hutapea, penulis buku "Kamus Budaya Batak Toba" (1987), setidaknya ada 24 nama ulos dengan nilai, fungsi dan pemakaian yang tidak seragam.

Di antara nama-nama ulos tersebut adalah Pinunsaan (Runjatmarisi), Ragi Idup, Ragi Hotang, Ragi Pakko, Ragi Uluan, Ragi Angkola, Sibolang Pamontari, Sitolu Tuho Nagok, Sitolu Tuho Bolean, Suri-suri Na Gok, Sirara, dan Bintang Maratur Punsa.

Seterusnya Ragi Huting, Suri-Suri Parompa, Sitolu Tuho Najempek, Bintang Maratur, Ranta-ranta, Sadun Toba, Simarpusoran, Mangiring, Ulutorus Salendang, Sibolang Resta Salendang, Ulos Pinarsisi, dan Ulos Tutur Pinggir.

Di antara kain tenun bernilai tertinggi bagi masyarakat Batak Toba dan dikenakan dalam pesta-pesta riang gembira itu adalah Ulos Ragi Idup.

Berbeda dengan waktu pemakaian kain tenun yang juga disebut Ragi Idup ini, Marbun dan Hutapea mencatat dua jenis ulos yang umumnya dikenakan masyarakat Batak Toba dalam apa yang diistilahkan mereka "pesta duka" seperti saat dimana ada sanak keluarga yang meninggal adalah ulos Sibolang Pamontari dan Sirara.

Terlepas dari pakem tradisi masyarakat Batak Toba itu, para generasi mudanya kini menggunakan motif ulos yang umumnya berlatar belakang warna asli putih, merah dan hitam itu dalam produk-produk seperti blazer (baju jas), tas dan sandal.

"Ulos tidak lagi hanya dipakai saat kami menghadiri pesta pernikahan dan acara duka. Kini motif ulos juga dipakai untuk tas, sandal dan baju jas. Setahu saya, nggak ada larangan dari ketua adat untuk ini," kata Boy Samosir.

"Penggunaan motif ulos untuk nonproduk kain tenun tersebut dimaksudkan untuk semakin memopulerkan ulos di masyarakat," kata pemuda Batak berusia 22 tahun yang bekerja di resor wisata Tuktuk bernama Samosir Villa’s ini.

Boy mengatakan beragam ulos di Pulau Samosir itu dibuat banyak perajin di daerah seperti Simanindo yang berjarak sekitar 29 kilometer dari resor wisata tempatnya bekerja. "Mereka itu memang khusus bekerja membuat ulos untuk dijual ke Tomok dan luar daerah seperti Medan," katanya.

0 komentar:

Posting Komentar